Gaza: Penjara 1,5 Juta
Sesudah pemilihan umum Palestina pada 2006, Israel mulai memberlakukan serangkaian sanksi politis dan ekonomi di Gaza. Berbagai sanksi ini semakin ketat pada 2007. Gaza diblokade dari udara, darat dan laut sejak 2007 dan pergerakan manusia dan barang dibatasi.


Pada Operation Cast Lead ('Operasi Timah Panas') yang berlangsung selama 22 hari di pergantian tahun 2008 dan 2009, Israel memorak-morandakan semua tanah ladang, sekolah, tempat kerja dan rumah-rumah di kota, dan memutus habis sumber penghidupan rakyat Gaza.


Namun tetap saja 1,5 juta rakyat Palestina berusaha bertahan hidup di Gaza yang kini sudah menyerupai 'penjara terbuka.' Sebanyak 72 persen rakyat Gaza, yang 65 persen-nya adalah anak-anak, hidup di batas kelaparan. Sebanyak 10 persen anak dalam kondisi sakit-sakitan. PBB menyatakan, "situasi ini tidak bisa ditenggang lagi."


Armada Ini Mengusung Nurani Dunia
Enam LSM internasional termasuk IHH Humanitarian Relief Foundation, Free Gaza Movement, European Campaign to End the Siege on Gaza, Ship to Gaza Greece, Ship to Gaza Sweden dan The International Committee to Lift the Siege on Gaza membentuk armada pada bulan Mei 2010 untuk mengangkut 6.000 ton barang-barang bantuan kemanusiaan ke Gaza.


Selain bantuan kemanusiaan itu, 750 orang relawan kemanusiaan ikut dalam armada itu. Mereka datang dari 37 negara termasuk Jerman, Kuwait, Palestina, Irlandia, Swedia, Yunani, Cyprus Yunani, Maroko, Yaman, Mesir dan Aljzair. Di antara mereka ada sedikitnya 15 pejabat senior, lebih dari 60 wartawan internasional, seniman dan pemenang-pemenang Nobel Perdamaian.


Israel Menyerang Warga Sipil
Defne, Gazze I, Eleftheri Mesogios, Sfendoni, Challenger I dan Mavi Marmara bertemu di lepas pantai Cyprus pada Mei 30.
Ketika tengah berlayar menuju Gaza, armada mulai dikepung oleh empat kapal perusak Israel, tiga helikopter, dua kapal selam dan 30 speedboats Zodiac pada dini hari Mei 31.
Pada pukul 4:32 pasukan komando Israel bersenjata lengkap menyerbu Mavi Marmara, yang merupakan kapal induk armada, yang sedang berlayar di perairan internasional. Para serdadu itu menyerang warga sipil tak bersenjata dengan peluru plastik dan peluru hidup.


Para serdadu Israel itu membunuh sembilan aktivis perdamaian, delapan orang di antaranya berkewarganegaraan Turki dan satu orang lainnya adalah warga Turki - Amerika, serta menyebabkan cedera serius pada 56 orang lainnya.
Tentara-tentara Israel juga memutus komunikasi dari kapal; namun rekaman video penyerangan itu disiarkan langsung, secara live, tanpa mereka sadari. Hal ini memungkinkan seluruh dunia menyaksikan kekejaman Israel itu.
Semua relawan dibawa ke bagian atas kapal, dengan tangan diikat, tanpa diberi makan dan bahkan tidak diizinkan pergi ke WC. Barang-barang milik pribadi mereka juga dirampas. Seluruh 750 aktivis perdamaian itu ditangkap namun mereka dituduh memasuki Israel tanpa izin.


Kapal-kapal armada lalu dibawa ke Pelabuhan Ashdod dekat Tel Aviv. Berulangkali para relawan digeledah di sana. Di bawah pengamanan ketat, mereka difoto dan sidik jari mereka diambil paksa. Mereka dipaksa menjalani scanning mata dan interogasi. Sesudah itu, para relawan dibawa ke Penjara Beer-Sheva. Mereka dilarang berkomunikasi satu sama lain atau menelepon ke luar penjara.
Para relawan itu dilepaskan dua hari sesudah penyerangan, dan sesudah melalui upaya diplomatik intensif berbagai negara.


Berbagai peristiwa yang terjadi di atas Mavi Marmara pada 31 Mei itu dapatlah digambarkan sebagai refleksi segala sesuatu yang terjadi di Palestina - termasuk di antaranya kekerasan psikologis dan fisik, penangkapan-penangkapan dengan kekerasan, penculikan, penahanan, luka-luka, dibiarkan kelaparan, dilarang berkomunikasi dan dibunuh.
Rakyat Palestina sudah merasakan hidup di bawah penindasan seperti ini selama 63 tahun.*